Anak Jalanan, Tidak hanya Urusan Negara


Anak jalanan sudah merupakan realitas sosial yang sudah menjadi fenomena dalam keseharian sebuah masyarakat. Di Indonesia, anak jalanan bisa kita temukan di berbagai sudut kota. Anak jalanan identik dengan image kasar, tidak beradab, suka membuat kegaduhan yang kerap meresahkan masyarakat. Bahkan anak jalanan ini juga banyak melakukan tindak kejahatan, walaupun dalam skala kecil. Keberadaan anak jalanan ini bisa disebabkan dari kurangnya peran dan control orang tua dalam mendidik anak di dalam lingkungan keluarga. Keluarga terlalu acuh dalam mengawasi pergaulan dan perilaku anaknya.

Walaupun belum ada definisi yang pasti mengenai anak jalanan ini, secara umum kita dapat mengatakan bahwa anak jalanan adalah anak-anak yang memiliki kegitan ekonomi dijalanan. Kegiatan ekonomi yang dimaksud disini berhubungan dengan pencarian uang atau nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Berdasarkan hubungannya dengan keluarga, kita dapat mengelompokkan jenis anak jalanan ini menjadi tiga kategori yaitu anak-anak yang turun ke jalanan, anak-anak yang di jalanan dan anak-anak dari keluarga yang ada dijalan.

Untuk ketegori yang pertama, anak-anak yang turun ke jalanan, merupakan anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi dijalan, namun mereka masih memiliki keluarga dan rumah untuk tempat pulangnya tiap hari. Anak-anak dari golongan pertama ini umumnya berasal dari keluarga yang bebas dimana orang tua tidak memiliki peranan dan control yang dominan dalam mendidik anaknya. Untuk golongan kedua, anak-anak yang dijalan, merupakan anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Anak jalanan golongan ini umumnya berasal dari keluarga yang brokenhome, dimana keluarga sudah tidak menjadi bagian dari dirinya lagi. Karena tidak adanya fungsi keluarga disini, maka anak-anak ini mencari kehidupan dari jalanan. Golongan terakhir adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Anak-anak yang berasal dari golongan ini biasanya memiliki sikap yang kasar karena mereka telah terlahir dan tumbuh besar dilingkungan jalanan yang keras dan sulit. Orang tua mereka pun juga telah lama hidup dijalanan, sehingga tidak ada lagi pengenalan dan penanaman nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Walaupun ada beberapa jenis dari anak jalanan ini, tapi secara umum anak jalanan ini merupakan anak-anak yang lahir dari kekurang-perhatian dari lingkungannya. Secara gamblang, mereka dapat dikatakan sebagai anak-anak yang telantar. Anak telantar merupakan masalah sosial struktural yang ditandai oleh adanya pengabaian hak-hak anak oleh orang tua/keluarga atau orang dewasa lainnya yang bertanggung jawab terhadap perawatan dan asuhan anak. Baik itu terlantar dari segi materi karena himpitan ekonomi maupun dari segi pendidikan karena rendahnya pengetahuan orang tua. Secara umum, baik anak telantar maupun anak jalanan beresiko mengalami hambatan dalam tumbuh-kembang akibat tidak terpenuhinya kebutuhan makan, pendidikan, dan kesehatan. Secara khusus, anak jalanan juga rentan menjadi korban penyalahgunaan obat terlarang dan tindak kekerasan dari sesama anak jalanan maupun orang dewasa.

Di Padang sendiri, keberadaan anak jalanan memang sudah menjadi warna tersendiri bagi kota ini. Keberadaan mereka sangat mudah kita temui. Pasar, terminal, kawasan wisata, taman rekreasi dan perempatan jalan raya adalah kawasan yang selalu mereka hampiri. Mengamen, berjualan dan meminta sedekah adalah beberapa pekerjaan yang sering mereka lakonkan. Alasannya klasik, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita tidak bisa menyepelekan keberadaan anak jalanan, karena mereka juga merupakan bagian dari masyarakat, dan juga merupakan generasi penerus bangsa.

Negara memang telah memberikan perhatian khusus terhadap fenomena anak jalanan ini, sebagaimana yang tercantum dalam pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “ Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara dan dilindungi oleh Negara”. Jelas, bahwa masalah anak jalanan merupakan prioritas yang harus diperhatikan dan dicarikan penyelesaian jalan keluarnya. Berbagai program pemerintah dalam mengurangi jumlah anak jalanan dapat kita lihat dari kegiatan pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas sosial. Seperti program sekolah demokrasi yang dirilis pada tahun 2011 ini. Di sekolah ini, anak-anak jalanan ini nantinya akan diberikan pelatihan dan pendidikan yang bermanfaat bagi dirinya sehingga nantinya mereka bisa meminimalisir sejumlah kegiatan yang biasanya dilakukan di jalanan.

Namun, masalah anak jalanan ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah dalam memberantasnya. Sebagai bagian dari realitas sosial, dukungan masyarakat juga sangat dibutuhkan disini. Peranan pranata sosial seperti keluarga, organisasi pemuda dan masyarakat, maupun LSM yang bergerak di bidang sosial sangat dibutuhkan disini. Dengan bersinerginya berbagai komponen ini, maka komunitas mereka bisa diminimalisir sehingga mereka tidak perlu lagi berpikiran untuk melakukan kegiatan ekonomi dijalanan lagi. Anak-anak ini bisa mengenyam pendidikan, memperoleh pengetahuan tentang etika dan moral yang nantinya akan melahirkan generasi yang berkualitas dan beradap.

Mahasiswa, sebagai generasi muda terdidik dapat menjadi salah satu komponen yang dapat mengupayakan penghapusan fenomena anak jalanan ini. Dengan kemampuan intelektual yang telah terasah, mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilannya untuk memberikan pelatihan dan pendidikan kepada anak jalanan ini. Tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk mengabaikan tugas ini, karena mahasiswa juga memiliki tanggungjawab sosial bagi masyarakatnya sebagaimana yang tercantum dalam salah satu point dalam Tri Dharma dari perguruan tinggi, yaitu bakti kepada masyarakat.

Jika kesemua komponen ini serius dalam mengupayakan penghapusan anak jalanan dan mendorong anak-anak terlantar ini untuk tidak berkegiatan di jalanan lagi, maka tidak ada lagi anak-anak yang mengemen, berjualan da mengemis di jalanan. Sehingga masyarakat yang tertib dan beradab dengan generasi penerus yang berkualitas akan terwujud.

Komentar

Postingan Populer