Dan Pecundang pun Jadi Pemenang

Aku tau, aku adalah pecundang. yang hanya bisa berada di level tengah, yang selau menjadi orang dengan prioritas ke sekian, jangankan menjadi conceptor, mengacungkan tanganpun aku tak sanggup. aku adalah pecundang, mengambil keputusan pun aku selalu di bayangi ragu. jangankan untuk membantah, menyuarakan isi hatiku pun aku tak mampu.

ternyata,, aku memang pecundang!

Aku selalu merenungi keadaan yang menyedihkan ini. jika berada di lorong yang sunyi, di malam yang sepi dan disela hembusan angin yang menyeruak di antara jendela bus pun aku sering merenung. akankah aku bisa menjadi lebih baik???


Akankah aku bisa menjadi lebih baik..?, lagi dan lagi kata-kata itu terus aku dengungkan di otakku berharap deretan kata itu mampu mensugestiku untuk tidak lagi menjadi... Pecundang!

Aku teringat dengan statusku beberapa waktu terakhir " ambisius??? apakah itu harus dimiliki?? bukankah itu sedikit...mengerikan?". aku mulai memikirkan keadaanku lebih jauh, aku rasa sifat itu yang tak ada pada diriku, sama sekali.

aku hanya selalu membiarkan orang lain berkata, menyilahkannya berjalan duluan yang ku sendiri tahu bahwa aku juga bisa melakukannya, bahkan lebih baik. siapa tahu??
atau aku selalu mengamini kata mereka, yang kutahu itu bukanlah solusi terbaik hanya kerana aku malas dan tidak bersemangat mengemukakan isi hatiku.

Aku tidak menginginkan ambisius yang memperjuangkan keinginannya dengan segenap kemampuan yang di barengi dengan cara-cara yang tidak fair, bukan.Tapi aku hanya menginginkan ambisius yang membuatku lebih bersemangat dalam hidup, dalam pencapaian keinginan dan cita-cita ku.

dan aku hanya ingin,, agar hatiku dapat mencintai sesuatu dengan sepenuh hatiku. mencintai hingga dapat terukir indah di hatiku. Agar keinginanku, cita-citaku dan orang yang aku cintai benar-benar serasa kumiliki dan dapat ku perjuangkan dengan segenap jiwaku.

Dan aku,,akan mampu serius berkomitmen bahwa aku bukanlah pecundang lagi.Tak akan memikirkan diriku yang menyedihkan di lorong-lorong yang sunyi itu lagi, dimalam yang sepi itu lagi, dan diantara semilir angin yang berhembus di sela-sela jendela bus.. Tak akan lagi. Hingga aku benar-benar terlahir menjadi seorang pemenang.

Komentar

Postingan Populer